Pages

Friday, June 1, 2018

Anwar Ibrahim Tuding Australia "Turut Bersalah" Dalam Korupsi Najib

Mantan pemimpin oposisi Malaysia Anwar Ibrahim menuduh Australia "sangat tidak jujur" tentang mantan perdana menteri negara itu Najib Razak.

Anwar, yang disebut-sebut akan menjadi perdana menteri Malaysia, juga menuduh Pemerintah Australia "turut bersalah" dalam korupsi pemerintahan Najib.

Setelah menghabiskan 10 tahun dalam penjara, Anwar Ibrahim bersama-sama koalisi Pakatan Harapan mengusung mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad dan berhasil mengakhiri pemerintahan Najib yang dilanda skandal korupsi.

Kini Najib menghadapi tuduhan menjarah One-Malaysia Development Bank (1MDB), dan dananya digunakan membeli barang mewah mulai real estate hingga benda-benda seni.

Dalam wawancara dengan Program Breakfast Radio National yang merupakan bagian dari ABC, Anwar menyebutkan kebijakan luar negeri Australia dirasakan di Malaysia sebagai mentolerir korupsi dan kejahatan.

"Semua pernyataan mereka sangat mendukung Pemerintahan Najib, terlepas dari apa pun mereka dikatakan," katanya.

"Menyatakan bahwa Malaysia adalah contoh dari demokrasi yang paling moderat dan pantas, maksud saya pernyataan seperti itu dianggap konyol dan sangat tidak jujur," ujarnya.

Anwar juga mengkritik Australia karena menahan mantan pengawal Najib, Sirul Azgar Umar, di pusat detensi Villawood di Sydney.

Sirul telah dihukum di Malaysia atas dugaan pembunuhan seorang penerjemah Mongolia yang disebut-sebut terkait dengan mantan PM Najib.

Menurut Anwar, Australia harus melepaskan orang ini sehingga bisa kembali ke Malaysia untuk menghadapi persidangan pengadilan.

"Sudah waktunya Australia menerima kenyataan bahwa beberapa kebijakan luar negeri mereka dianggap oleh kebanyakan rakyat Malaysia sebagai terlibat, atau toleran, terhadap kejahatan korupsi dan juga tindakan kriminal," katanya.

"Pihak berwajib Malaysia kemudian dapat meminta kerja sama Australia, guna memastikan ada pengadilan yang adil. Karena kita tidak dapat bersidang bila seseorang ditahan di tempat lain," jelasnya.

Situasi yang ideal, menurut Anwar, adalah jika Australia mengembalikan orang tersebut secara sukarela.

"Mereka juga berbicara beberapa opsi lain dalam negosiasi antara pemerintah dengan pemerintah," katanya.

"Tapi tentu saja Sirul harus dilindungi. Dia juga mengkhawatirkan keamanan pribadinya," tambahnya.

Ingin move on

Terlepas dari masa lalunya, Anwar mengatakan kini dia ingin move on dan membangun kembali hubungan baik dengan mitranya di luar negeri, termasuk Australia.

"Saya akan terus terang mengungkapkan pandangan saya. Saya tidak di pemerintahan sekarang. Saya tidak terlalu khawatir tentang peraturan diplomatik," katanya.

"Namun saya pikir poin pentingnya yaitu hubungan kita haruslah sangat ramah dan masalah bilateral harus sangat baik dengan Australia," tambahnya.

Ditanya apakah dia merasa dikecewakan oleh Pemerintah Australia selama menjalani kurungan penjara, Anwar mengatakan meskipun mereka tidak melakukan apa-apa, "Saya baik-baik saja, saya sekarang orang bebas".

"Saya ingin move on. Saya masih percaya bahwa hubungan Australia - Malaysia haruslah sangat baik," ujarnya.

Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop sebelumnya menyatakan Australia "menghendaki hubungan yang dekat dan produktif dengan Pemerintah Malaysia yang baru".

"Hubungan kami yang positif dan luas dengan pemerintahan sebelumnya memungkinkan kami berkolaborasi dalam berbagai hal menjadi kepentingan nasional Australia dan Malaysia," katanya.

"Kami tidak berupaya melanggar kedaulatan negara lain, seperti juga kami harapkan negara lain tidak ikut campur dalam urusan politik kami," kata Menlu Bishop.

"Urusan tentang ekstradisi adalah masalah Departemen Dalam Negeri dan Kejaksaan Agung," tambahnya.

Diterbitkan oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC Australia.

Let's block ads! (Why?)

https://www.jpnn.com/news/anwar-ibrahim-tuding-australia-turut-bersalah-dalam-korupsi-najib

Pengamat: Anak Milenial Tidak Butuh Teori Pancasila

Jumat, 01 Juni 2018 – 13:00 WIB
Pengamat: Anak Milenial Tidak Butuh Teori Pancasila - JPNN.COM

jpnn.com, JAKARTA - Generasi zaman now tidak perlu dijejali dengan teori-teori tentang Pancasila, yang dibutuhkan adalah praktik tentang pengamalan nilai-nilai Pancasila.

"Anak milenial tidak bisa diajari satu arah tapi harus dua arah. Semakin didikte dia akan melawan. Begitu juga dengan mengajarkan Pancasila jangan kebanyakan teori tapi lewat praktik. Teori tetap ada tapi tidak banyak," ujar Pengamat Pendidikan Robertus Budi Setiono menyikapi aksi radikalisme yang mulai masuk ke dunia pendidikan, di Jakarta, Jumat (1/6).

Untuk menangkal radikalisme, lanjutnya, dimulai dari rekrutmen guru. Jangan sampai sekolah meloloskan guru yang menganut paham radikal. Sebab, paham radikal dengan mudah ditularkan kepada siswa.

Peran orang tua dan lingkungan sosial juga menjadi faktor penentu anak terkontaminasi dengan radikalisme atau tidak.

"Terkadang di sekolah anak-anak sudah ditanamkan tentang sikap Pancasilais tapi begitu sampai di rumah dibengkokkan lagi oleh orangtuanya. Ini yang membuat anak galau dan mencari jawaban sendiri. Dan ini berbahaya bila si anak malah mendapatkan jawaban sesat," tutur Robertus yang juga direktur Global Sevilla School ini.

Dia mencontohkan salah satu penerapan Pancasila yang diajarkan kepada anak-anak sejak usia dini, yaitu perayaan hari-hari besar keagamaan. Seperti buka puasa bersama, lebaran, dan natal. Dalam agenda ini anak-anak dari berbagai suku, agama, dan ras berbaur jadi satu. Saat bukber atau lebaran, anak-anak serta ortu non muslim ikut menyiapkan kebutuhan acara. Sebaliknya saat natal, yang muslim ikutan sibuk.

"Dari sini diajarkan ke anak-anak kalau kita itu satu walaupun berbeda-beda. Ini salah satu pembentukan karakter Pancasila sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi enggak usah anak-anak disuruh banyak menghafal teori tapi minim praktik," ucapnya.

Anggota Dewan Pendidikan Jakarta Timur ini juga mengimbau masyarakat jangan mengkotak-kotakkan anak-anak. Dunia mereka masih sangat polos. Biarkan mereka tahu tentang 5 agama sehingga paham arti keberagaman.

"Yang suka membeda-bedakan itu kan orang dewasa. Anak-anak enggak tahu, jadi tolong jangan rusak mereka. Sebab radikalisme sangat mudah merasuki generasi milenia yang masa kanak-kanaknya sudah tertanam paham radikal," tutupnya. (esy/jpnn)

Berita Terkait
Berita Lainnya
Sponsored Content
loading...
loading...
Video Pilihan

Let's block ads! (Why?)

https://www.jpnn.com/news/pengamat-anak-milenial-tidak-butuh-teori-pancasila